Lagi lagi terdiam diantara bisingya trompet, seketika itu terjadi ketia
aku merasa ada yang mengganjal tentang kejadian beberapa waktu yang
lalu, hatiku hanya bertanya sudah benarkah yang aku lakukan?? seperti
apa etika baik itu??
Pagi itu saat ku bekerja, ku dapati kabar
burung tentang tak berfungsinya vacum raksasa atau penghisap, alat yang
biasa aku gunakan untuk membersihkan butir bitir pasir besi di benda
kerjaku, seketika aku terfikirkan tentang permasalahanya, sedikit aku
membenahinya dan aku coba lagi, dan ketia aku mencobanya aku masukan
tanganku kedalam selang.
Bodohnya aku yang berfikir alat itu masih dalam
permasalahnya, tanganku terhisap sangt kuat bahkan tenagaku tak sanggup
tuk melepas tanganku dari jerat hisapan monster penghisap itu, diantara
rasa panikku aku bertariak pada temanku untuk mematikan alat itu tapi
kepanikanku membuat suaraku tak jelas terdenagar olehnya, aku semakin
berteriak dan membentaknya agar dia bergegas melepaskan aku dari sakit
waktu itu, tapi seketika ku lihat matanya memerah raut wajahnya seperti
sing yang kelapran, dan aku tau aku telah salah bersikap.
Rasa sakitku
membuat ku tak bisa mengontrol logikaku, beruntung temanku masih mau
mematikan tuas mesin pnghisap itu dan benar saja tangnku memerah biru,
berdenyut seperti sirine ambulan persis seperti akibat dari becam, aku
bergegas pergi membersihkan tangnku dengn membawa sakit, rasa bersalah,
antara ingin meminta maaf atau membiyarkan semuanya kembali begitu saja
karna waktu, ya itu lah arogansiku, paradigma berfikirku yang aku juga
tak tahu benar atau salah,
Beruntung aku masih dalam warasku,
aku menghampirinya aku meminta maaf padanya dan mengatakn alasanku
melakukan itu sambil menunjukkan luka ku yang mesih membekas hingga sekarang.
Dari kajedian itu aku banyak mendapat moral story agar aku bisa lebih baik lagi, aku berlajar tentang etika dan moral yang memiliki arti yang sangat luas, mungkin bisa ku katakan bahwa antara etika dan moral memiki objek yang sama, yaitu sama-sama membahas tentang perbuatan manusia selanjutnya ditentukan posisinya apakah baik atau buruk.
Tentang permaafan, ada yang jadi pertanyaan saya
1 kenapa kita sulit meminta maaf pada orang lain?
2 kenapa kita sulit memaafkan orang lain?
Mungkin ini beberapa alasan kenpa kita sulit untuk meminta maaf.
Pertama karna kita tidak merasa bersalah atau berfikir hal itu hanya hal sepele yang tak perlu dipersoalkan, mugkim hal ini yang dimaksud dengan arogansi paradigma.
Kedua merasa gengsi meskipun tahu telah melakukan keslahan, contoh dari arogansi prilaku.
Ketiga
sadar telah melakukan kesalahn tapi berfikir semua akan membaik sendiri
seiring waktu tanpa meminta maaf, contoh arogansi prilaku.
Lalu bagai mana dengan sebaliknya.
Pertama curiga apa permintaan maaf itu tulus atau tidak, ini yang disebut arogansi peasangka.
Kedua menuntut sesuatu yang lebih.
Ketiga
karena merasakan sakit yang dirasa sulit untuk dihilangkan ini penyakit
hati yang sebagai manusia biasa kita butuh waktu lama tuk menghadapinya.
Lalu
aku berpendapat tentang bagaimana si cara meminta maaf yang baik, jika
keadan memungkinkan alangkah baiknya kalau bertatap muka dan
membicarakanya ( bukan lewat SMS ), aku fikir itu juga etika untuk kita menghargai lawan
bicara. bahkan Allah SWT berfirman: "Dan bersegeralah kamu kepada
ampunan dari Tuhanmu, Allah menyediakan syurga yang luasnya seluas
langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu
orang-orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang atau sempit
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang
lain, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Al-Imran:
133-134).
Dan bagaimana jika kita mendiamkan lawan kita apa itu cara yang
benar, aku juga tak menyalahkan cara itu tapi yang aku tau diam hanya mereda perasan masing masing tanpa ada
pembelajaran atas masalah tersebut. semoga ini bermanfaat terutama untuk
saya yang menulisnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar